Kematian Mendadak: Apa dan Mengapa?

Setiap orang tentu ingin hidup panjang. Menikmati masa-masa tua dengan bermain bersama cucu-cucu yang lucu atau sekedar berjalan-jalan di taman bersama dengan pasangan tersayang. Namun, apa mau dikata, terkadang alam semesta berkehendak lain. Hidup panjang yang diimpikan urung untuk terlaksana karena sudah harus dicukupkan dalam usia yang relatif muda. Seperti yang baru saja terjadi kepada salah satu pesohor negeri ini. Sontak, banyak orang meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap kesehatan jantung, organ yang ditengarai menjadi penyebab kematian dari pesohor tersebut.

Dalam dunia medis, kematian mendadak (SD: sudden death) didefinisikan sebagai kematian yang tidak diduga pada individu sehat dalam waktu 1 jam setelah muncul gejala atau bila tidak ada saksi, dalam waktu 24 jam setelah seseorang terakhir terlihat dalam kondisi yang sehat. SD terbagi mjd dua yaitu yang disebabkan oleh penyakit jantung atau sudden cardiac death (SCD) dan penyakit selain jantung spt perdarahan otak, epilepsi, emboli paru, atau asma.  Sedangkan, kematian mendadak dimana penyebabnya tidak diketahui (SUD: sudden unexplained death) diartikan sbg kematian mendadak dimana tidak ada penyebab yg ditemukan setelah dilakukan autopsi yg komplit dan komprehensif (termasuk histologi dan toksikologi). [1]

Data menunjukkan bahwa insidensi SD di populasi umum dng umur 20-75 tahun adalah 1:1000 individu, yang mana menyumbang 18.5% dari seluruh kematian. [2] Studi di Denmark melaporkan insidensi SCD sebesar 2.8 per 100.000 orang/tahun pada kelompok 1-35 tahun. [3] Tidak ada data mengenai insidensi kematian mendadak akibat jantung atau penyakit lainnya di Indonesia. Tetapi, data di Singapura mencatat insidensi SCD sebesar 20.9 per 100.000. [4] (gambar 1)

Gambar 1
(sumber: Heart, Lung and Circulation 2019; 28: 6–14)

Sebenarnya apa yang menjadi penyebab utama dari kematian jantung mendadak?

Gambar 2
(sumber:  Maharani E. Predicting and Preventing Sudden Cardiac Death in The Young. Jogja Cardiology Update 2019; Clinical Medicine 2018 18(2): s17–s23)

Grafik di atas (gambar 2) menunjukkan bahwa 36% dari kejadian jantung mendadak pada usia muda tidak diketahui penyebabnya. Sisanya, kemungkinan disebabkan oleh gangguan struktural jantung seperti penyakit jantung iskemik, kardiomiopati noniskemik, penyakit jantung valvular, penyakit jantung bawaan, kardiomiopati hipertropi atau gangguan pada aliran listrik jantung seperti sindrom long-QT congenital, sindrom short-QT, sindrom WPW, sindrom Brugada atau kondisi lainnya. [5,6]

Salah satu studi yang dilakukan di Australia dan New Zealand mendata 409 pasien usia 1-35 tahun yang mengalami kematian jantung mendadak (SCD) sejak tahun 2010-2012. Dari jumlah tersebut, pasien usia 31-35 tahun paling banyak insidensi tjdnya kematian jantung mendadak (gambar 3), dan pasien usia 16-20 tahun mengalami insidensi kematian jantung mendadak dimana penyebabnya tidak bisa dijelaskan (unexplained SCD). Penyebab paling sering dari SCD adalah penyakit jantung koroner (24% kasus) dan kardiomiopati inherited (16% kasus). Sedangkan, 40% kasus yang termasuk unexplained SCD banyak ditemukan pada semua usia, kecuali usia 31-35 tahun, dimana penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebab utama. (gambar 4)

Di populasi unexplained SCD, mutasi genetik jantung teridentifikasi pada 31 dari 113 kasus (27%). Selama follow-up, dilaporkan bahwa 13% dari populasi tersebut mempunyai riwayat penyakit jantung keluarga (inherited cardiovascular disease). [3]

Gambar 3
(sumber:  N Engl J Med 374;25: 2446)
Gambar 4
(sumber:  N Engl J Med 374;25: 2446)

Salah satu data yang cukup mencuri perhatian dari laporan ini adalah tentang aktivitas saat kematian jantung mendadak terjadi. Data menunjukkan bahwa SCD paling banyak terjadi saat tidur atau saat sedang beristirahat (gambar 5). Kondisi ini mungkin disebabkan oleh aktivitas saraf simpatis yang akan memicu terjadinya gangguan irama jantung (aritmia). [3]

  Gambar 5
 (sumber:  N Engl J Med 374;25: 2446)

Dari kedua data di atas dapat disimpulkan bahwa penyakit jantung koroner, yang disebabkan oleh sumbatan plak di pembuluh darah jantung, masih menyumbang kontribusi utama untuk terjadinya SCD. Walaupun, faktor-faktor lain seperti kelainan pada struktur jantung dan irama jantung serta pengaruh keturunan juga mempunyai kontribusi yang tidak sedikit. Masih banyaknya penyebab kematian yang tidak terdeteksi membuat screening awal terhadap kondisi jantung mjd penting untuk dilakukan sedini mungkin.

Kematian mendadak tentu akan menimbulkan luka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Oleh karena itu ada beberapa strategi yang mungkin bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya kematian mendadak.

1. Minimalisasi faktor risiko

Penyakit jantung koroner merupakan pemicu paling banyak terjadinya SCD. Hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia dan obesitas adalah beberapa kondisi yang bisa mempercepat terjadinya penyakit jantung koroner. Kontrol tekanan darah, gula darah, dan menjaga berat badan dalam batas normal, memegang peranan yang sangat penting dalam memperlambat perkembangan PJK. 

2. Mengenali gejala dan pemeriksaan rutin

Tubuh sering memberikan alarm-alarm tertentu untuk memperingatkan adanya gangguan. Namun, sering kali alarm tersebut diabaikan atau terlewat disadari oleh kita. Nyeri dada kiri merupakan salah satu gejala yang paling sering terjadi. Gejala ini bisa muncul ketika beraktivitas berat/ringan atau malah ketika sedang dalam kondisi santai.

Kondisi ini sekilas mirip dengan gejala gastritis atau GERD (gastroesophageal reflux disease) dimana bagian ulu hati terasa seperti terbakar. Selain itu, pada individu dengan diabetes melitus, gejala nyeri dada sering muncul dalam level yang sangat ringan misalnya muncul seperti gejala masuk angin. Maka dari itu, bila mengalami nyeri dada, ada baiknya langsung melakukan pemeriksaan ke petugas kesehatan.

Selain penyakit jantung koroner, gangguan irama listrik jantung juga berperan dalam SCD. Pemeriksaan rekam jantung (EKG) dan tes treadmill bisa menjadi titik awal screening terhadap potensi SCD.

3. Mengolahraga secara rutin

Dalam melakukan olahraga, prinsip yang harus dipegang adalah teratur dan terukur. Teratur diartikan bahwa aktivitas ini dilakukan secara rutin, rekomendasi American Heart Association adalah 150 menit per minggu (30 menit pd 5 hari) aktivitas aerobik intensitas-moderate atau 75 menit aktivitas aerobik berat.

Olahraga yang termasuk dalam intensitas moderate antara lain: jalan cepat (sekitar 4km per jam), aerobik, menari, BERKEBUN, tenis double dan bersepeda dng kecepatan <16 km per jam.  Sementara, aktivitas intensitas berat antara lain: naik bukit, berlari, berenang, heavy yardwork (berkebun dng aktivitas berat) spt menggali tanah, tenis single, lompat tali dan bersepeda dng kecepatan > 16 km per jam. [7]

Terukur diartikan sebagai batasan intesitas olahraga yang bisa dilakukan. Salah satu cara paling gampang yang bisa dilakukan utk mengukur adalah dng menghitung denyut jantung. Aktivitas intensitas moderate mencapai 50-70% dari denyut jantung maksimal/maximum heart rate (MHR). Denyut jantung maksimal bisa didapatkan dari penghitungan: 220-umur. Bila dalam kondisi yang tidak terlalu fit atau baru mulai berolahraga, kita bisa mulai dengan aktivitas dengan target denyut jantung yang lebih rendah, sembari meningkatkan intensitas latihan seiring waktu.

Tidak disarankan melakukan olahraga permainan seperti badminton, sepakbola, futsal dan lainnya terutama bila kita jarang berolahraga sebelumnya karena akan meningkatkan stres metabolik dalam waktu singkat yang akan berisiko pada SCD.

Kematian memang seperti pencuri. Mereka datang sewaktu-waktu tanpa permisi. Tetapi, apakah kita tidak berupaya menghindari dan terus saja berdiam diri. Bila sudah berusaha, tetapi takdir tetap berkata sebaliknya, satu hal yang perlu disadari bahwa “hidup bukan melulu tentang panjangnya rentang usia, tetapi apakah hidup kita bisa selalu berguna dan bermakna untuk sesama”.

Penulis: dr. Athanasius Wrin

Referensi:

1. van der Werf C; van Langen IM; Wilde AAM. Sudden Death in Young: What Do We Know About It and How to Prevent? Circ Arrhythm Electrophysiol. 2010;3:96-104

2.  De Vreede-Swagemakers JJ, Gorgels AP, Dubois-Arbouw WI, van Ree JW, Daemen MJ, Houben LG, Wellens HJ. Out-of-hospital cardiac arrest in the 1990’s: a population-based study in the Maastricht area on incidence, characteristics and survival. J Am Coll Cardiol. 1997;30:1500-1505

3. Bagnall RD, Weintraub RG, Ingles J, et al. A Prospective Study of Sudden Cardiac Death Among Children and Young Adults. N Engl J Med 376; 25: 2441-2452

4. Wong CX, Brown A, Lau DH, et al. Epidemiology of Sudden Cardiac Death: Global and Regional Perspectives.  Heart, Lung and Circulation (2019) 28, 6–14

5. Maharani E. Predicting and Preventing Sudden Cardiac Death in The Young. Jogja Cardiology Update 2019

6.  Thiene G. Sudden Cardiac Death in the Young: a Genetic Destiny?
Clinical Medicine 2018 Vol 18, No 2: s17–s23

7. American Heart Association Recommendations for Physical Activity in Adults and Kids. Accessed from: https://www.heart.org/en/healthy-living/fitness/fitness-basics/aha-recs-for-physical-activity-in-adults February 20, 2020